Karakteristik Fenotipik Isolat Bakteri
Disusun oleh Marlin M. Raunsai
Universitas Negeri Yogyakarta, 2011-11-20
A.
Tinjauan Pustaka
Karakteristik fenotipik
isolat bakteri dapat diketahui adalah melalui pembiakan bakteri dalam
laboratorium mikrobiologi. Bakteri memerlukan medium untuk pembiakannya. Medium
tersebut berisi zat hara serta faktor lingkungan yang sesuai dengan bakteri.
Zat hara tersebut digunakan untuk pertumbuhan, sintesis sel, keperluan energi
dalam metabolisme, dan pergerakannya. Medium tersebut harus mengandung air,
sumber karbon, sumber energi, fosfat, oksigen, nitrogen, sulfur, dan lain-lain.
Medium tidak hanya merupakan
sumber makanan bagi bakteri tetapi juga mendukung sejumlah fungsi khusus
lainnya yaitu isolasi bakteri dari mikroorganisme campuran, memisahkan kelompok
bakteri berdasarkan kenampakan makroskopis koloni dan reaksi fisiologis
(biokimiawi) dalam medium, untuk perhitungan jumlah bakteri, uji zat-zat yang
disintesa secara alamiah, serta karakterisasi dan identifikasi bakteri melalui
kemampuannya menghasilkan perubahan-perubahan kimiawi pada medium yang berbeda.
Media pertumbuhan berdasarkan
konsistensinya terbagi menjadi tiga yaitu media padat, media semisolid, dan
media cair. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
1.
Media padat
Media padat
yaitu media yang didapatkan dengan menambahkan bahan pemadat seperti agar,
gelatin, atau silika gel ke dalam media cair. Pada praktikum mikrobiologi
biasanya menggunakan agar (kompleks polisakarida terdiri dari galaktosa dan
asam galakturonat) yang merupakan ekstrak red marine algae. Agar ditambahkan ke
media dengan konsentrasi 1,5-2,0% (w/v), supaya dihasilkan media yang
benar-benar padat. Bentuk media agar adalah agar tegak (kebutuhan
mikroorganisme akan oksigen), agar miring (menyimpan kultur murni
mikroorganisme), dan agar plate (karakteristik permukaan koloni bakteri sebagai
tahap awal identifikasi).
2.
Media semisolid
Konsistensi media semisolid
antara media cair dan media padat. Agen pemadat yang ditambahkan kurang dari 1
% sehingga media ini seperti jelly. Umumnya digunakan untuk menguji motilitas
bakteri.
3.
Media cair
Media cair hanya mengandung
komponen-komponen yang dilarutkan dalam aquadest dan tidak mengandung bahan
pemadat. Umumnya media ini digunakan untuk propagasi mikroorganisme, uji fermentasi,
dan berbagai uji lainnya.
Karakteristik fenotipik
isolat bakteri yang perlu diamati dan diuji adalah morfologi koloni, morfologi
sel, sifat fisiologis biokimiawi, dan pengaruh faktor lingkungan. Morfologi
koloni dapat ditelusuri dalam Bergey’s Manual of Determinative Bacteriology.
Morfologi sel dapat melalui 2 cara yaitu mengamati sel hidup yang tidak di cat
dan mengamati sel bakteri mati yang sudah di cat. Sifat fisiologis biokimiawi
dilakukan melalui uji fermentatif dan hidrolisis. Faktor lingkungan yang perlu
diperhatikan adalah suhu, pH, aerasi yang harus benar-benar dikontrol (Geo F.
Brooks. 2005).
B.
Tujuan
1.
Mengembangkan kemampuan mahasiswa
dalam mendeskripsikan kenampakan makroskopis (cultural characteristic) isolat
bakteri uji pada berbagai media.
2.
Mengembangkan kemampuan mahasiwa
dalam mendeskripsikan karakteristik fisiologis biokimiawi isolat bakteri uji
pada berbagai media (fermentasi, hidrolitik, dan lain-lain).
C.
Cara Kerja
Pengecatan Gram:
1.
Gelas benda dibersihkan dengan
alkohol kemudian dilewatkan beberapa kali diatas nyala api bunsen hingga kering
dan bebas lemak/minyak.
2.
Olesan tipis bakteri dibuat pada
gelas benda tersebut. Olesan dibuat dengan cara: satu/dua ose aquadest steril
diletakkan dibagian tengah gelas benda tadi, kemudian isolat bakteri uji
diambil secara aseptik dan disuspensikan dengan tetesan aquadest. Kering
anginkan dan difiksasi dengan melewatkan beberapa kali diatas nyala api bunsen.
3.
Olesan tersebut dibubuhi secara
merata dengan kristal violet (Gram A, cat primer) dan dibiarkan 30 detik
kemudian dicuci dengan air mengalir hingga tetesan airnya jernih kemudian
dikeringanginkan.
4.
Larutan iodin (Gram B, larutan
mordan) dibubuhi merata pada olesan tersebut dan dibiarkan selama 30 detik
kemudian dicuci pada air mengalir hingga tetesan air jernih dan dikering
anginkan.
5.
dekolorisasi dilakukan dengan
membubuhi olesan tersebut dengan etil alkohol 95% selama 10 – 20 detik.
Kemudian dicuci dengan air selama beberapa detik untuk menghentikan aktivitas
dekolorisasi.
6.
Olesan tadi dibubuhi lagi dengan
safranin (Gram D) selama 20 – 30 detik. Kemudian dicuci dengan air mengalir
untuk membersihkan semua sisa cat, selanjutnya air dihisap dengan kertas
penghisap dan dikering anginkan.
7.
Hasil pengecatan diamati melalui
mikroskop.
8.
Bakteri gram positif berwarna
ungu/biru dan bakteri gram negatif berwarna merah muda.
Pengujian dengan pengamatan
kultural karakteristik:
1.
Nutrien agar plate: Isolat bakteri
diinokulasikan dengan metode titik pada satu dan dengan metode garis lurus
tempat dipermukaan agar plate.
2.
Nutien agar slant: Isolat bakteri
diinokulasikan dengan jarum ose dengan metode zig zag dari ujung hingga
pangkal.
3.
Nutrien agar tegak: Isolat bakteri
diinokulasikan dengan jarum ose. Satu tusukan lurus dibentuk di tengah medium
mulai dari pangkal sampai ujungnya.
4.
Nutrien cair: Isolat bakteri
diinokulasikan dengan jarum ose kolong dan digerakkan beberapa kali pada medium
nutrien cair agar isolat bakteri terlepas dari ose.
5.
Semua kultur diinokulasikan pada
suhu kamar selama 24-48 jam.
6.
Pengamatan disesuaikan dengan
gambar karakteristik kultur pada lampiran 4.
Pengujian daya fermentatif dan
hidrolitik
Fermentasi karbohidrat
1.
Dengan teknik aseptik, isolat
bakteri X diinokulasikan ke media glukosa cair dan sukrosa cair.
2.
semua tabung diinkubasi selama
24-48 jam pada temperatur kamar.
3.
Perubahan-perubahan diamati dan
dicatat.
Hidrolisa pati
1.
Dengan teknik aseptik, inokulasi
goresan garis lurus isolat bakteri X dibuat pada medium pati agar. Diinkubasi
terbalik selama 24-48 jam pada temperatur kamar.
2.
Daya hidrolitik: Goresan isolat
bakteri ditetesi dengan larutan iod dan dibiarkan 30 detik.
3.
Hasil diamati yaitu terbentuknya
zona jernih disekitar koloni.
Uji katalase
1.
Gelas benda dibersihkan dengan
alkohol dan dikeringkan diatas nyala api bunsen.
2.
Isolat bakteri X diambil secara
aseptis dengan jarum ose dan dioleskan pada gelas benda.
3.
Olesan bakteri tersebut ditetesi
dengan 3 % hidrogen peroksida.
4.
Apabila bakteri dapat
menghidrolisis hidrogen peroksida maka akan timbul gelembung.
D.
Pembahasan
Pada praktikum mikrobiologi yang
diadakan pada hari senin, oktober 2011. Diperoleh hasil pengamatan pengecatan
gram adalah sebagai berikut.
Gram A (Kristal violet) : Ungu
Gram B (Iod) : Ungu
Gram C (Alkohol) : Putih
Gram D (Safranin) : Merah muda
Berdasarkan
hasil yang diperoleh, bakteri ini dinyatakan sebagai bakteri gram negatif. Dari
hasil tersebut dapat dijelaskan prosesnya sebagai berikut.
Cat gram A
mengandung kristal violet (cat primer) sehingga berwarna ungu pada bakteri. Cat
gram B berfungsi memfiksasi cat primer pada bakteri X sehingga pengikatan warna
lebih kuat sehingga bakteri tetap berwarna ungu. Cat gram C berfungsi
melunturkan cat sebelumnya dan bakteri X tersebut mengalami dekolorisasi dan
tidak berwarna sehingga dinyatakan sebagai bakteri gram negatif. Menurut teori,
hal ini kemungkinan diakibatkan oleh dinding sel bakteri gram negatif memiliki
kadar lipid yang tinggi (20%) sehingga mudah larut dengan alkohol mengakibatkan
pori-pori dinding sel membesar menyebabkan zat warna yang sudah diserap mudah
dilepaskan dan bakteri menjadi tidak berwarna. Teori lain mengatakan bahwa
kemungkinan bakteri tersebut mempunyai lapisan peptidoglikan yang tipis hanya
1-2 lapisan dan susunan dinding selnya tidak kompak. Sehingga permeabilitas
dinding sel lebih besar yang mengakibatkan masih memungkinkan lepasnya kompleks
kristal yodium.
Olesan bakteri
X kemudian dibubuhi oleh cat gram D (safranin) sebagai cat sekunder yang
berfungsi memberikan warna pada mikroorganisme non target. Bakteri ini berwarna
merah muda karena cat sebelumnya telah luntur sehingga mampu mengikat cat gram
D.
Setelah
melakukan pewarnaan gram, kemudian praktikan melakukan pengujian untuk
pengamatan kultural karakteristik. Berikut tabelnya.
|
No
|
Medium
|
Pengamatan pada
|
|
|
24 jam
|
48 jam
|
||
|
1.
|
Nutrien Agar (NA)
tegak
|
Motil
|
Motil
|
|
2.
|
SIM
|
Motil
|
Motil
|
|
3.
|
Nutrien cair (NB)
|
Warna merah muda di permukaan medium
|
Warna merah muda di permukaan medium
|
|
4.
|
Glukosa
|
Merah muda
|
Gelembung pada tabung burdam
|
|
5.
|
Sukrosa
|
Merah muda
|
Gelembung pada tabung burdam
|
|
6.
|
Pati agar
|
Negatif
|
|
|
7.
|
Nutrien Agar (NA)
plate
|
|
Negatif
|
|
8.
|
CMC
|
|
Negatif
|
|
9.
|
Simon sitrat
|
Motil
|
Motil
|
|
10.
|
Uji katalase
|
Positif
|
|
Berdasarkan
tabel diatas, pada NA tegak untuk pengamatan 24 jam dan 48 jam bahwa bakteri X
tersebut motil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar